FaithfulNews
Masa Biasa

Gereja dunia · 16 September 2026

Konferensi Perdamaian Ekumenis Dunia Berakhir dengan Seruan Dialog Gereja Utara dan Selatan

a crowd of people with their hands in the air
Amir Arabshahi / Unsplash

Konferensi Perdamaian Ekumenis Dunia 2026 yang diselenggarakan bersama oleh World Council of Churches, Christian Conference of Asia, dan National Council of Churches in Korea berakhir pada 13 September di Seoul.

Sekitar 300 peserta yang terdiri dari perwakilan gereja dunia serta aktivis perdamaian dan hak asasi manusia menghadiri acara tersebut. Selama lima hari, mereka membahas konflik di berbagai belahan dunia, pelucutan senjata, denuklirisasi, serta perdamaian di Semenanjung Korea.

Pada 11 September, konferensi tersebut mengadopsi Deklarasi Perdamaian Seoul. Dokumen ini mendefinisikan perdamaian bukan sekadar kondisi tanpa perang, melainkan sebuah proses yang melibatkan keadilan, penyembuhan, dan rekonsiliasi. Deklarasi tersebut mendesak transisi dari sistem gencatan senjata menuju sistem perdamaian permanen di Semenanjung Korea, penghapusan senjata nuklir, kerja sama kemanusiaan dan pertukaran sipil antara Utara dan Selatan, serta respons bersama terhadap bencana dan perubahan iklim.

Sekretaris Jenderal World Council of Churches, Jerry Pillay, menekankan bahwa iman dapat membangun jembatan bahkan di tempat politik membangun tembok. Ia merujuk pada sejarah 40 tahun lalu ketika umat Kristen Utara dan Selatan bertemu secara resmi melalui mediasi World Council of Churches di Glion, Swiss, pada tahun 1986. Pillay menyatakan bahwa pengakuan atas penderitaan kedua belah pihak dan perlindungan martabat individu adalah prasyarat bagi rekonsiliasi.

Sekretaris Jenderal Christian Conference of Asia, Grace Moon Chung Eun, menyatakan solidaritas gereja-gereja Asia terhadap masyarakat Korea yang menginginkan perdamaian. Ia menyebut perpecahan Semenanjung Korea selama lebih dari 70 tahun sebagai tragedi manusia, moral, dan spiritual. Moon mendesak agar wilayah tersebut tidak dijadikan panggung persaingan geopolitik atau kepentingan negara besar.

Meskipun pertukaran langsung antara gereja Utara dan Selatan saat ini terputus, terdapat upaya untuk memulai kembali dialog. Jerry Pillay telah bertemu dengan Perdana Menteri Korea Selatan, Han Sung-sook, bersama perwakilan dari Christian Conference of Asia, National Council of Churches in Korea, dan International Campaign to Abolish Nuclear Weapons. Mereka membahas kemungkinan memulai kembali pertukaran melalui bidang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti bantuan kemanusiaan, isu sosial, dan perubahan iklim, daripada langsung menangani isu politik yang sulit seperti penyatuan atau rekonsiliasi.

World Council of Churches melaporkan telah menerima pesan dari Korean Christian Federation pada bulan Agustus yang merayakan hari jadi ke-78 organisasi tersebut serta keinginan untuk melanjutkan persahabatan dan solidaritas. World Council of Churches menganggap hal ini sebagai tanda kecil yang memberikan semangat untuk mencari peluang pertemuan langsung antara umat Kristen Utara dan Selatan.