Gereja dunia · 5 November 2026
Kardinal Czerny Mengulas Ensiklik Paus Leon XIV Mengenai Kecerdasan Buatan
Kardinal Czerny memberikan pengantar untuk karya Rafael Lazcano yang membahas ensiklik Magnifica humanitas dari Paus Leon XIV. Dokumen tersebut memberikan evaluasi mengenai kecerdasan buatan bagi Gereja dan dunia.
Analisis dalam ensiklik tersebut menggunakan dampak teknologi digital baru sebagai kesempatan untuk merenungkan makna manusia dalam autentisitas terdalamnya. Pembahasan ini mencakup drama kebebasan manusia melalui perspektif teologis, antropologis, sosiologis, dan etika yang saling berkaitan.
Dokumen ini menggunakan perbandingan antara Babel dan Yerusalem untuk menyoroti upaya manusia yang dilakukan bersama. Babel digambarkan sebagai bentuk kecerdasan manusia yang melayani upaya kemandirian yang agung, namun pada akhirnya menyebabkan fragmentasi dan disintegrasi karena tidak melibatkan Tuhan. Sebaliknya, pembangunan kembali tembok Yerusalem menunjukkan kecerdasan manusia yang melayani Tuhan untuk mempromosikan kebaikan bersama dan martabat setiap orang.
Dalam bagian pendahuluan, ensiklik tersebut mempertanyakan jenis kemajuan yang sedang dipromosikan dan meminta perhatian pada kondisi kehidupan yang dihasilkan oleh sarana teknis. Fokus utamanya adalah apakah inovasi mendorong hubungan yang lebih adil, lembaga yang lebih memperhatikan manusia, dan masa depan yang benar-benar dimiliki bersama. Sistem kecerdasan buatan dilaporkan memiliki dampak luas pada bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, komunikasi, dan pendidikan.
Umat Kristen didorong untuk mengarahkan tindakan mereka kepada Tuhan agar pluralisme tidak menjadi kekacauan, melainkan menjadi ruang bagi kemanusiaan untuk memulihkan fondasi kokoh melalui praktik sinodalitas. Sinodalitas dipandang sebagai bentuk kehadiran, mendengarkan, dan tanggung jawab bersama yang memungkinkan orang percaya berpartisipasi dalam karya zaman ini.
Ensiklik tersebut menawarkan konsep pembangunan yang didasarkan pada empat prinsip antropologis utama, yaitu keinginan, batasan, tanggung jawab bersama, dan penegasan. Terkait keinginan manusia akan kebahagiaan, dokumen tersebut mengakui bahwa kemajuan teknologi menjanjikan kehidupan yang lebih nyaman dan kurang menderita. Namun, terdapat risiko pemiskinan manusia jika keinginan tersebut hanya dikurangi menjadi sekadar kinerja atau kontrol.
Selain itu, dokumen tersebut menekankan pentingnya mengakui realitas batasan manusia. Jika kerapuhan hanya dianggap sebagai ketidaksempurnaan yang harus diperbaiki atau dihapus, maka nilai kehidupan orang dengan disabilitas, penyakit, atau penuaan akan sulit diakui. Batasan dianggap sebagai bagian inheren dari kondisi manusia yang mengingatkan bahwa hidup adalah anugerah yang harus dijaga.