FaithfulNews
Masa Biasa

Gereja dunia · 25 Oktober 2026

Kritik terhadap Uskup Agung Oviedo terkait kedekatan Gereja dengan kekuasaan

a church with a fountain in front of it
Luiza Carvalho / Unsplash

Uskup Agung Oviedo, Jesús Sanz Montes, menyatakan bahwa ia melakukan politik setiap kali ada kesempatan. Pernyataan ini memicu pertanyaan mengenai arah kebijakan Gereja dan hubungannya dengan kelompok miskin. Sumber berita ini menyoroti ketegangan antara ajaran Injil dan ambisi kekuasaan yang dianggap semakin dekat oleh hierarki gerejawi.

Kritik utama berfokus pada kenyamanan hierarki gerejawi yang lebih memilih berada di dekat pusat kekuasaan daripada di sisi mereka yang menderita akibat kebijakan tersebut. Suara Gereja terdengar lantang saat membela tradisi tertentu atau melawan perubahan sosial, namun melemah ketika membahas kemiskinan, ketidaksetaraan, dan pengucilan imigran. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa otoritas keagamaan berubah menjadi alat legitimasi untuk pilihan ideologis tertentu, alih-alih berkomitmen pada keadilan dan martabat manusia.

Sumber berita ini merujuk pada ajaran Yesus yang tidak mencari pengakuan dari orang-orang berkuasa. Yesus berada di antara orang sakit, yang terpinggirkan, dan mereka yang tidak dianggap oleh otoritas keagamaan pada zamannya. Dalam Matius 25,31-46, Kristus mengidentifikasi diri-Nya dengan orang lapar, haus, asing, telanjang, dan yang dipenjara. Teks ini menegaskan bahwa ukuran kesetiaan terletak pada cara memperlakukan orang-orang terakhir, bukan pada kedekatan dengan institusi atau pengaruh politik.

Pemanfaatan ruang sakral untuk kepentingan politik juga menjadi sorotan. Acara pemilihan umum Vox di Covadonga pada tahun 2019 menimbulkan pertanyaan tentang apakah sebuah tempat suci dapat menjadi panggung strategi partisan tanpa mengorbankan independensi pastoral Gereja. Simbol keagamaan tidak boleh berfungsi sebagai jaminan moral bagi satu kelompok politik tertentu. Gereja harus menghindari kesan bahwa ia berbicara terutama untuk mereka yang ingin menjadikan agama sebagai batas antara warga negara.

Kontras antara penurunan pengaruh Gereja dan jarak antara ajarannya dengan keyakinan nyata banyak orang yang dibaptis juga diungkapkan. Bangunan gereja mungkin masih berdiri, tetapi bangku-bangkunya semakin kosong, menunjukkan krisis yang tidak dapat diselesaikan dengan menuntut kepatuhan. Survei tentang religiositas mengindikasikan transformasi mendalam dalam citra Tuhan dan keyakinan tradisional, meskipun hasilnya harus diperiksa dengan ketat. Banyak orang percaya menjauh dari citra Tuhan sebagai hakim yang menghukum dan mendekat pada pengalaman belas kasihan serta harapan.

Injil menawarkan jawaban yang lebih menuntut daripada sekadar mempertahankan institusi. Dalam Lukas 4,18, Yesus menyatakan bahwa Ia diutus untuk memberitakan kabar baik kepada orang miskin, kebebasan kepada tawanan, dan pembebasan kepada orang yang tertindas. Prioritasnya adalah manusia, bukan pemulihan privilese gerejawi atau pengaruh parlemen. Jika Gereja berbicara atas nama Kristus, ia harus membuktikan bahwa nasib orang miskin lebih penting baginya daripada kedekatan dengan orang-orang berkuasa.