Gereja dunia · 20 September 2026
Kardinal Bustillo Menyarankan Pemulihan Nilai Injil untuk Memperbaiki Kehidupan Sosial
Kardinal François Bustillo, uskup Ajaccio, menyatakan bahwa masyarakat Barat kontemporer saat ini sedang mengalami perpecahan yang mendalam. Beliau mengusulkan penyembuhan kondisi tersebut melalui sebuah proyek relasional yang mendalam.
Bustillo mendorong penghapusan pengadilan kecurigaan dan tindakan penghakiman massal yang terjadi di media sosial. Sebagai lawan dari kegilaan digital tersebut, beliau menyarankan penerapan keheningan dan jarak reflektif yang berasal dari tradisi monastik, yang memungkinkan seseorang untuk menilai berbagai hal dengan tenang dan proporsional.
Beliau mengajak adanya perubahan sudut pandang untuk menggantikan individualisme dengan kepentingan bersama, di mana orang lain dipandang sebagai sekutu dan bukan sebagai ancaman. Selain itu, beliau menuntut agar pelaksanaan otoritas politik dan gerejawi didasarkan pada kerendahan hati serta sikap mendengarkan, sehingga perbedaan dapat diubah menjadi kekayaan kolektif untuk membangun kembali jaringan sosial yang rusak.
Dalam bukunya yang membahas tentang penyembuhan masyarakat yang terpecah, Bustillo berpendapat bahwa masyarakat Barat telah mengabaikan nilai dan prinsip Injil. Beliau mengusulkan kembalinya prinsip kasih, pengampunan, tidak menghakimi, tidak mengutuk, dan memberi, yang menurutnya merupakan dasar bagi masyarakat yang lebih baik, terevangelisasi, dan beradab.
Bustillo mengkritik sistem media dan media sosial yang cenderung menciptakan polemik dan memiliki mentalitas hakim daripada filsuf. Beliau mencatat adanya kecenderungan untuk menghakimi dan mengutuk tanpa argumen yang cukup, yang didorong oleh emosi daripada refleksi. Beliau menekankan pentingnya meluangkan waktu untuk mendalami argumen agar tidak bereaksi secara impulsif dan tidak adil.
Merujuk pada kisah wanita yang berzina dalam Injil, beliau menjelaskan bagaimana Yesus melucuti kemampuan manusia untuk menghakimi tanpa mengetahui segala hal. Beliau memperingatkan bahaya dualisme yang membagi masyarakat menjadi kelompok yang murni dan sempurna melawan kelompok lainnya, karena kehidupan tidaklah hitam putih.
Beliau juga membandingkan permintaan kepala Yohanes Pembaptis dengan perilaku saat ini di mana banyak orang menginginkan kejatuhan orang lain melalui tulisan atau cuitan yang mencoreng martabat manusia. Menurutnya, nilai Injil harus dipulihkan untuk memperbaiki kehidupan sosial yang damai di tengah masyarakat yang keras dan penuh kekerasan.
Terhadap para misionaris digital, Bustillo menyatakan bahwa media sosial adalah sarana untuk menyampaikan pesan dan tidak boleh dipuja maupun dianggap iblis. Beliau mencatat bahwa di Prancis, banyak kaum muda yang mendekat kepada Injil melalui media sosial. Beliau menantang masyarakat untuk menggunakan media sosial guna menyampaikan kata-kata berkat dan hal-hal baik tentang orang lain, bukan sekadar kata-kata kutukan.