FaithfulNews
Masa Biasa

Budaya dan gagasan · 25 Oktober 2026

Juga diterbitkan dalam हिन्दी, ไทย

Teolog Menekankan Tanggung Jawab Bersama untuk Perdamaian Melalui Dialog Antaragama

a book with a pair of glasses on top of it
David J. Boozer / Unsplash

Para perwakilan dari berbagai agama dunia berkumpul dalam sebuah pertemuan doa untuk perdamaian yang menandai empat puluh tahun sejak acara serupa pertama kali diadakan di Assisi. Teolog Thomas Lemmen menjelaskan bahwa tanggung jawab untuk menciptakan perdamaian harus dipikul bersama dan bahwa dialog antaragama perlu menjadi bagian nyata dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Acara ini mengingatkan kembali pada inisiatif awal yang dimulai oleh Paus Yohanes Paulus II, yang saat itu mengumpulkan pemimpin agama untuk berdoa bersama demi perdamaian dunia.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari berbagai tradisi keagamaan, termasuk umat Kristen dari berbagai denominasi, Yahudi, Islam, Hindu, Buddha, Sikh, Jain, serta penganut agama-agama asli. Kehadiran mereka menunjukkan betapa luasnya cakupan gerakan ini dan betapa pentingnya kerja sama lintas iman. Acara biasanya dimulai dengan pertemuan pembuka di sebuah gereja, dilanjutkan dengan hari yang diisi keheningan, doa, dan meditasi, serta ditutup dengan kegiatan di depan Basilika Santo Fransiskus. Suasana semacam itu menciptakan tanda yang kuat tentang persatuan dalam keberagaman.

Menurut Thomas Lemmen, pertemuan ini bukan sekadar simbol, melainkan pernyataan jelas bahwa perdamaian adalah tanggung jawab bersama semua umat beragama, bukan hanya umat Katolik. Dorongan untuk terlibat datang dari tanggung jawab spiritual yang mendalam, bukan hanya karena tuntutan sosial. Iman kepada Tuhan atau yang Ilahi menjadi dasar pemersatu yang menggerakkan para peserta untuk bekerja sama demi kebaikan bersama. Hal ini membedakan upaya mereka dari kegiatan organisasi non-pemerintah atau lembaga hak asasi manusia yang mungkin tidak memiliki dimensi transenden.

Pertemuan ini juga berfungsi sebagai seruan terhadap penyalahgunaan agama untuk kepentingan politik atau konflik, seperti yang terlihat di beberapa negara saat ini. Fokus utama adalah mengembalikan agama pada esensinya, yaitu nilai-nilai spiritual dan transenden yang mendasarinya. Pengalaman langsung dari partisipasi dalam pertemuan semacam itu, termasuk keterlibatan kelompok campuran umat Kristen dan Muslim, menumbuhkan rasa kebersamaan yang kuat di antara para peserta dari latar belakang berbeda.

Di tingkat lokal, seperti di Keuskupan Agung Köln dan wilayah Nordrhein-Westfalen, pertemuan doa antaragama terus diadakan secara berkala, misalnya dalam rangka pameran taman negeri. Harapan ke depan adalah agar pesan baik yang dimulai lebih dari enam puluh tahun lalu melalui dokumen Nostra aetate terus hidup dalam hati dan pikiran umat, terutama di tingkat komunitas, sekolah, dan tempat penitipan anak. Dialog antaragama harus menjadi bagian tak terpisahkan dari realitas sehari-hari, bukan sekadar acara seremonial sesekali.

Komunitas Sant'Egidio, yang didirikan di Roma pada tahun seribu sembilan ratus enam puluh delapan oleh sekelompok remaja, memainkan peran penting dalam memfasilitasi dialog semacam ini. Organisasi ini aktif dalam pekerjaan amal, diplomasi di daerah konflik, dan promosi dialog antaragama. Dengan sekitar enam puluh ribu anggota di tujuh puluh negara, termasuk lima ribu di Jerman, komunitas ini telah diakui oleh Gereja Katolik sebagai asosiasi awam sejak tahun seribu sembilan ratus delapan puluh enam. Kantor pusatnya berada di distrik Trastevere di Roma, sementara pusat Jermanannya berlokasi di Würzburg sejak tahun seribu sembilan ratus delapan puluh tiga.