Misi dan bantuan · 21 Oktober 2026
Penginjilan, Perdamaian, dan Persatuan Menjadi Tema Utama Pesan Kepausan untuk Hari Misi Sedunia
Para Paus dari berbagai generasi telah menekankan bahwa misi Gereja harus menjawab tantangan paling mendesak di zamannya, mulai dari perdamaian antar bangsa, penghormatan terhadap kebebasan beragama, pelayanan bagi kaum miskin, hingga persatuan umat Kristiani. Dalam peringatan seratus tahun penetapan Hari Misi Sedunia, pesan-pesan mereka menunjukkan bahwa penginjilan adalah tugas seluruh komunitas beriman.
Hari Misi Sedunia didirikan pada tahun 1926. Sepanjang beberapa dekade, pesan kepausan telah menggambarkan panggilan misi Gereja dalam konteks perubahan sosial, konflik, dan pertanyaan mengenai peran agama di dunia modern. Pengajaran para Paus menegaskan keyakinan bahwa pemberitaan Injil tidak boleh terpisah dari kebutuhan nyata manusia dan bangsa-bangsa.
Pius XII dalam pesannya pada 19 Oktober 1940 menekankan pentingnya doa untuk perdamaian antar saudara dan bangsa, dengan menyatakan bahwa tanggung jawab umat Kristiani mencakup rekonsiliasi dan mengatasi perpecahan. Sementara itu, Paweł VI dalam pesan tanggal 25 Mei 1969 menyoroti bahwa penghormatan terhadap kebebasan hati nurani tidak bertentangan dengan penginjilan, melainkan menciptakan kondisi di mana misi dapat dilakukan dengan menghormati martabat dan kemandirian orang lain.
Jan Paweł II mengingatkan pada 11 Juni 2000 bahwa misi membutuhkan ketekunan, kemiskinan, ketaatan, pelayanan, dan kesiapan untuk berkorban, di mana setiap umat Kristiani dipanggil untuk berbagi sukacita pertemuan dengan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Benedykt XVI kemudian menekankan pada 29 April 2006 bahwa sumber misi adalah kasih kepada Tuhan dan sesama, yang diwujudkan melalui kepedulian nyata terhadap orang miskin dan yang menderita.
Paus Franciszek dalam pesan 25 Januari 2024 mengaitkan misi dengan dimensi eskatologis dan ekaristi sebagai jawaban terhadap budaya konsumerisme dan individualisme melalui keadilan dan persaudaraan. Terakhir, Leon XIV dalam pesannya pada 25 Januari 2026 menekankan bahwa konflik dan polarisasi memperlemah kredibilitas kesaksian Kristiani, sehingga penginjilan memerlukan pembangunan persekutuan dan upaya menuju persatuan umat Kristiani.