FaithfulNews
Masa Biasa

Misi dan bantuan · 20 Oktober 2026

Paus: “Roti tidak boleh digunakan sebagai senjata perang”

toddlers inside room
Avel Chuklanov / Unsplash

Paus menyampaikan pernyataan tersebut dalam konteks Hari Pangan Sedunia yang tema tahun ini adalah “Inovasi hari ini untuk memberi makan masa depan”. Menurutnya, membantu bumi untuk menghasilkan bukan hanya sekadar melakukan pekerjaan teknis, tetapi juga memenuhi perintah untuk “mengolah dan menjaga bumi” sebagaimana tertulis dalam kitab suci. Meskipun kemajuan global semakin cepat, kenyataan bahwa kelaparan dan kemiskinan terus berlanjut adalah suatu paradoks yang serius. Ini bukan hanya masalah teknis atau finansial, tetapi juga krisis manusiawi dan etika yang mendalam.

Paus menekankan bahwa kata inovasi sering kali disalahartikan sebagai pengembangan alat dan algoritma untuk keuntungan ekonomi semata. Inovasi sejati harus menghormati hukum-hukum kompleks yang mengarahkan kegiatan penciptaan oleh Sang Pencipta. Menggunakan teknologi yang tepat untuk mengolah tanah harus mencerminkan peran manusia sebagai mitra dalam karya penciptaan Tuhan. Namun, jika teknologi modern digunakan hanya untuk mengambil kesuburan tanah atau mengusir petani dari tanah mereka demi keuntungan ekonomi, maka itu tidak dapat dianggap sebagai kemajuan, melainkan sebagai bentuk penghancuran yang halus.

Paus menegaskan bahwa kelaparan tidak boleh dianggap sebagai fenomena statistik. Kelaparan seringkali disebabkan oleh kurangnya kemauan politik dan ketidakberadaan solidaritas kolektif. Kekurangan pangan tidak semata-mata disebabkan oleh kondisi geografis. Dalam zaman kemajuan teknis yang belum pernah terjadi sebelumnya, menjadikan roti sebagai barang mewah dan air sebagai objek perebutan adalah hal yang tidak dapat diterima. Setiap orang berhak untuk mendapatkan makanan yang aman, layak, dan cukup secara teratur, dan itu adalah kewajiban moral negara dan masyarakat internasional untuk menjamin hak tersebut.