FaithfulNews
Masa Biasa

Gereja dunia · 3 November 2026

Jurnalis Jerman Jan Fleischhauer Ungkap Kedekatannya dengan Gereja Katolik dalam Wawancara Radio

Wooden pews inside a stone church with arched doorways and a memorial plaque
Annie Spratt / Unsplash

Jan Fleischhauer, seorang jurnalis terkemuka di Jerman, menyatakan bahwa ia merasa dekat dengan Gereja Katolik. Pernyataan ini ia sampaikan dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh stasiun radio DOMRADIO. Ia dikenal luas sebagai mantan redaktur majalah Spiegel dan penulis kolom di majalah Focus. Dalam kesempatan tersebut, Fleischhauer mempresentasikan dirinya sebagai pria yang memiliki sudut-sudut tajam dan sudut-sudut keras, namun tetap memegang teguh sikap Kristen. Ia menekankan bahwa bagi dirinya, merasa terlindungi oleh Tuhan adalah hal yang indah. Pernyataan ini menjadi inti dari pembicaraan yang menyoroti pandangan pribadinya tentang iman dan profesi jurnalistik yang ia geluti selama bertahun-tahun.

Fleischhauer menjelaskan bahwa ia memilih untuk tetap berada di jalur opini dan tidak tertarik dengan investigasi mendalam yang memakan waktu berbulan-bulan. Ia mengakui bahwa banyak jurnalis di Jerman yang tidak selalu memiliki reputasi baik di mata publik, namun hal tersebut tidak terlalu memengaruhinya. Baginya, penting untuk terus menulis dan menyampaikan pendapat yang jelas, meskipun hal itu berarti harus menghadapi kritik atau tidak disukai oleh semua orang. Ia lebih memilih untuk dibaca daripada sekadar disukai, karena menurutnya keduanya adalah hal yang berbeda. Sikap ini mencerminkan komitmennya terhadap kejujuran dan otentisitas dalam setiap tulisan yang ia hasilkan.

Dalam wawancara tersebut, Fleischhauer juga membahas format acara barunya di stasiun televisi ZDF yang berjudul "Keine Talkshow - Eingesperrt dengan Jan Fleischhauer". Acara ini berbeda dari acara bincang-bincang konvensional karena melibatkan tamu yang memiliki pandangan bertentangan dengan Fleischhauer, dan keduanya dikurung bersama dalam sebuah kontainer selama 90 menit. Ia tidak mengundang politisi senior karena tidak menyukai frasa-frasa politik yang klise. Sebaliknya, ia lebih memilih mengundang aktivis atau individu yang lebih muda yang memiliki keyakinan kuat terhadap suatu isu. Ia percaya bahwa orang-orang yang membakar semangat untuk suatu hal tertentu lebih menarik untuk didiskusikan daripada politisi yang hanya mengulang kalimat standar.

Fleischhauer mendefinisikan pandangan konservatifnya sebagai upaya untuk melestarikan institusi-institusi yang dianggapnya penting. Ia berpendapat bahwa moralitas hidup di dalam institusi, bukan di dalam diri manusia secara individual. Oleh karena itu, ia merasa perlu untuk mempertahankan institusi-institusi tersebut. Salah satu keunggulan besar yang ia lihat dalam Gereja Katolik adalah bahwa gereja tersebut bebas dari kesan murahan atau berlebihan. Ia juga menyoroti perbedaan pandangan antara kaum kiri dan kanan, di mana kaum kiri percaya bahwa kebaikan ada di dalam manusia, sementara kaum konservatif percaya bahwa moralitas tertanam dalam struktur institusional. Pandangan ini menjadi dasar bagi sikapnya terhadap berbagai isu sosial dan politik di Jerman.