FaithfulNews
Masa Biasa

Gereja dunia · 25 Oktober 2026

Juga diterbitkan dalam 日本語, 中文

Vatikan menyatakan Paus Leo XIV tidak memerlukan perawatan lanjutan untuk kanker paru-paru

silhouette photo of mountain during golden hour
Mohammad Alizade / Unsplash

Vatikan mengumumkan pada hari Rabu bahwa Paus Leo XIV tidak akan memerlukan perawatan lebih lanjut untuk kanker paru-paru setelah serangkaian tes medis memastikan bahwa penyakit tersebut terbatas hanya pada area lokal di dalam organ tubuhnya. Pengumuman ini menandai perkembangan positif bagi pemimpin gereja tersebut yang baru saja menjalani prosedur bedah besar pertama selama masa kepausannya yang telah berlangsung selama tujuh belas bulan.

Paus yang berusia tujuh puluh satu tahun tersebut telah menjalani operasi pengangkatan sebagian dari salah satu paru-parunya pada minggu lalu. Hasil pemeriksaan jaringan yang diambil selama tindakan bedah tersebut mengonfirmasi diagnosis adenokarsinoma, yang merupakan jenis kanker paru-paru paling umum yang ditemukan pada pasien. Dokter pribadi paus, Luigi Carbone, bersama dengan dokter bedahnya, Stefano Margaritora, menjelaskan bahwa tes akhir terhadap jaringan yang diangkat memastikan bahwa kanker tersebut belum menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Para dokter merilis sebuah pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa penilaian onkologi berikutnya menegaskan bahwa tidak ada kebutuhan untuk terapi tambahan. Tindakan medis yang telah dilakukan berupa pengangkatan bagian bawah atau lobus dari paru-paru kanan paus bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh sel kanker telah terhapus dari tubuhnya. Perawatan tambahan biasanya hanya ditawarkan kepada pasien whose kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening atau menunjukkan tanda-tanda agresivitas tertentu, namun kasus ini tertangkap pada tahap sangat awal sehingga pembedahan saja dianggap cukup.

Kondisi paus teridentifikasi sebagai temuan insidental, di mana nodul di paru-parunya ditemukan secara tidak sengaja selama pemeriksaan rutin pada bagian perut, bukan karena adanya gejala yang dirasakan oleh pasien. Stefano Margaritora, yang menjabat sebagai kepala dokter bedah toraks di Rumah Sakit Gemelli di Roma, mengonfirmasi dalam sebuah wawancara bahwa paus sama sekali tidak mengalami gejala apa pun sebelum penemuan tersebut. Ahli kanker paru-paru dari Pusat Kanker Komprehensif Lombardi di Universitas Georgetown, Stephen Liu, menilai bahwa kondisi ini merupakan kanker paru-paru tahap satu di mana pembedahan sangat efektif dan diharapkan dapat menyembuhkan sepenuhnya.

Selama masa perawatan di rumah sakit, paus tetap menjalankan tugas kepemimpinannya termasuk melakukan panggilan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sejak keluar dari rumah sakit pada hari Sabtu, paus telah muncul dalam dua kesempatan publik di Vatikan dengan kondisi yang tampak kuat, yaitu saat memberikan berkah tradisional dari jendela yang menghadap Lapangan Santo Petrus pada hari Minggu dan selama audiensi yang lebih panjang di lapangan tersebut pada hari Rabu. Dalam audiensi tersebut, paus mengucapkan terima kasih atas dukungan doa dari umat beriman di seluruh dunia.

Rencana perjalanan internasional besar berikutnya yang dijadwalkan pada tanggal enam hingga tujuh belas November ke Uruguay, Argentina, dan Peru tetap akan dilaksanakan. Dokter Margaritora menyatakan bahwa tidak ada alasan klinis yang mencegah paus untuk melakukan perjalanan tersebut meskipun jadwalnya mencakup belasan penerbangan, dua perjalanan menggunakan helikopter, dan kunjungan ke lokasi dengan ketinggian tinggi. Keterbukaan mengenai kondisi kesehatan ini dimulai sejak paus mengungkapkan rencana pengangkatan nodul tersebut selama berkah tradisional pada tanggal sebelas Oktober melalui siaran televisi langsung, sebuah langkah yang memecah tradisi kerahasiaan seputar isu kesehatan kepausan.