Gereja dunia · 6 November 2026
Juga diterbitkan dalam 中文
Pendeta Menekankan Fokus pada Yesus di Tengah Polarisasi Politik
Matthew Tennant, pendeta senior di University Baptist Church, menyatakan bahwa pengikut Kristus dan gereja perlu memiliki kejelasan fokus yang berpusat pada Yesus Kristus. Hal ini dianggap penting terutama saat berbagai tuntutan menarik perhatian jemaat menjauh dari Yesus.
Tennant merujuk pada strategi James Carville dalam kampanye presiden Bill Clinton tahun 1992, yang menggunakan tanda bertuliskan ekonomi untuk menjaga pesan kampanye tetap konsisten. Penulis menyarankan agar gereja memiliki fokus serupa, di mana segala sesuatu yang dilakukan oleh pengikut Kristus harus disaring melalui lensa Yesus Kristus.
Dalam konteks musim pemilihan, terdapat diskusi mengenai kebutuhan orang beriman untuk terlibat dalam proses politik. Beberapa pandangan yang disebutkan mencakup seruan untuk keselamatan publik, akuntabilitas, serta tanggung jawab untuk memilih melawan agenda tertentu. Ada pula pendapat bahwa jika ajaran Yesus diambil secara serius, seseorang mungkin harus meninggalkan loyalitas partai politik seumur hidup mereka.
Penulis menekankan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati, sehingga mengikuti ajaran Yesus harus memicu tindakan nyata. Hal ini termasuk menunjukkan kasih kepada musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya, yang menurut penulis merupakan bagian penting dari kesaksian harian tentang apa yang diyakini dan dihargai oleh orang beriman.
Keterlibatan orang beriman dapat menjadi tanda bagi dunia, di mana sikap tidak peduli mencerminkan iman yang apatis, sementara toleransi terhadap kebencian menunjukkan Tuhan yang setuju dengan hal tersebut. Sebaliknya, tindakan mengasihi dan merangkul orang luar mengarah pada Tuhan yang mengasihi dunia. Penulis mencontohkan bagaimana Injil Matius mencatat Yesus merangkul orang luar, termasuk Tamar, Rahab, dan Rut.
Di tengah polarisasi yang mendalam di Amerika, penulis mencatat bahwa mengikuti Yesus berarti melakukan hal yang sulit, seperti menyangkal diri dan mengasihi musuh. Ia menyebutkan bahwa polarisasi saat ini kemungkinan akan bertahan untuk sementara waktu, merujuk pada pengalamannya menulis buku Crossing the Lines We Draw yang diterbitkan oleh Judson Press pada 15 April 2020.
Sebagai solusi atas situasi politik yang penuh dengan fitnah dan penghinaan, pengikut Kristus didorong untuk menjadi sumber harapan melalui tindakan nyata. Penulis merujuk pada Ucapan Bahagia, seperti undangan untuk rendah hati bagi mereka yang miskin di dalam roh dan lemah lembut, serta respons terhadap politisi yang penuh skandal melalui rasa haus akan kebenaran. Selain itu, menjadi pembawa damai dianggap sebagai kebutuhan mendesak di tengah penyebaran perang yang sia sia.