FaithfulNews
Masa Biasa

Gereja dunia · 24 Oktober 2026

Juga diterbitkan dalam 한국어

Mencintai Tuhan dan Sesama Manusia Merupakan Inti dari Kehidupan Kristen Sejati

Grand gothic cathedral interior with long rows of choir stalls
Michael D Beckwith / Unsplash

Yesus Kristus menegaskan bahwa mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan roh, serta mencintai sesama seperti diri sendiri, merupakan dua perintah terbesar yang menjadi fondasi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Pernyataan ini disampaikan sebagai jawaban langsung terhadap pertanyaan seorang ahli Taurat dari kalangan Farisi yang bertujuan untuk menguji-Nya. Insiden ini terjadi setelah Yesus berhasil membungkam para Saduki, sehingga para Farisi segera berkumpul di tempat tersebut untuk mengajukan tantangan teologis mereka sendiri. Salah satu di antara mereka, yang dikenal sebagai ahli dalam hukum agama, mengajukan pertanyaan mengenai perintah mana yang paling utama dalam keseluruhan hukum yang berlaku. Yesus merespons dengan mengutip perintah pertama untuk mencintai Tuhan dengan totalitas seluruh aspek diri manusia. Ia kemudian menambahkan perintah kedua yang serupa, yaitu mencintai sesama manusia dengan cara yang sama seperti mencintai diri sendiri.

Yesus secara eksplisit menyatakan bahwa kedua perintah ini saling berkaitan erat dan menjadi dasar bagi seluruh hukum serta tulisan para nabi. Dinamika ini melanjutkan pola interaksi sebelumnya di mana para juru tulis, Farisi, dan imam sering kali berusaha menjebak Yesus dengan pertanyaan-pertanyaan yang penuh tipu daya. Meskipun pertanyaan ahli Taurat tersebut tampaknya tidak memiliki nada konfrontatif yang jelas, Injil Matius secara konsisten menggambarkan ketegangan dan perdebatan antara kelompok-kelompok agama ini dengan Yesus. Dalam respons-Nya, Yesus menempatkan kedua perintah tersebut pada tingkat yang sama penting. Hal ini memperkuat ajaran lain dalam injil yang menyatakan bahwa melayani orang-orang terkecil adalah sama dengan melayani Tuhan sendiri. Aspek kedua yang krusial adalah definisi mengenai siapa yang dimaksud sebagai sesama. Bagi masyarakat Yahudi pada masa itu, konsep sesama sering kali dibatasi hanya kepada orang Yahudi, atau bahkan lebih sempit, hanya kepada mereka yang dianggap benar atau patuh hukum.

Namun, pesan keseluruhan Yesus memperluas batas ini hingga mencakup seluruh umat manusia, khususnya mereka yang paling membutuhkan bantuan. Prinsip ini diilustrasikan dengan jelas dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik dalam Injil Lukas. Dengan menyatakan bahwa seluruh hukum dan nabi bergantung pada dua perintah ini, Yesus merujuk pada keseluruhan teks Alkitab. Dengan demikian, cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama manusia berfungsi sebagai sintesis atau ringkasan dari seluruh janji ilahi yang terkandung dalam kitab suci. Pemahaman ini menjadi pusat dari kehidupan Kristen yang autentik dan taat.