FaithfulNews
Masa Biasa

Gereja dunia · 3 November 2026

Makna Pekerjaan dan Kontribusi Sosial Menurut Perspektif Iman Kristen

photo of music score
David Beale / Unsplash

Hirota Shinya merenungkan makna pekerjaan yang menurut dokumen Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang memiliki tiga signifikansi, yaitu pertumbuhan diri, kontribusi sosial, dan kemandirian ekonomi.

Penulis berpendapat bahwa kontribusi sosial atau melayani masyarakat seharusnya menjadi pusat dari pekerjaan, sementara pertumbuhan diri dan kemandirian ekonomi adalah hal yang menyertainya. Namun, memprioritaskan pertumbuhan diri dan kemandirian ekonomi dapat memberikan dampak negatif bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan.

Pengalaman pribadi penulis selama masa pertumbuhan ekonomi tinggi Jepang, dari tahun 1955 hingga krisis minyak pertama tahun 1973, membuatnya cenderung memandang pekerjaan hanya sebagai sarana mengembangkan masyarakat Jepang melalui pertumbuhan diri. Nilai tersebut kemudian menciptakan perasaan rendah diri dalam masyarakat yang kompetitif, terutama ketika penulis mengalami kegagalan dalam ujian sekolah dan tidak mampu mencapai hasil di tempat kerja.

Setelah memeluk iman pada usia 30 tahun, penulis membutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk keluar dari kondisi tersebut dengan berserah kepada Tuhan. Penulis juga mencatat bahwa prioritas pada kemandirian ekonomi sering terjadi karena pekerjaan membutuhkan penghasilan. Berdasarkan pengalamannya mengelola badan hukum, penulis menyadari bahwa perebutan hegemoni ekonomi dan hak istimewa sering memicu konflik dan perang.

Penulis menyebutkan bahwa Jepang pernah mendapat manfaat ekonomi dari permintaan khusus selama Perang Korea, dan saat ini ekonomi masih didukung oleh Perang Ukraina serta Perang Iran. Meskipun kontribusi sosial bisa terdistorsi oleh persepsi manusia tentang kebenaran, penulis menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah sosok yang memberikan pengaruh terbaik dalam melayani masyarakat.

Karya Yesus Kristus selama masa pelayanan publiknya meliputi penyampaian Injil Kerajaan Allah, penyembuhan orang sakit, pelatihan murid, serta kematian di kayu salib dan kebangkitan dari kubur. Pengaruh besar yang ditinggalkan Yesus dalam waktu tiga tahun bukan berasal dari ketenaran atau kesuksesan ekonomi, melainkan dari pengorbanan diri untuk mendampingi manusia.

Kontribusi sosial semacam itu tidak dapat dicapai melalui usaha manusia saja. Namun, melalui kebangkitan Yesus, Roh Kudus dicurahkan untuk memberikan iman dan membimbing manusia mencari Kerajaan Allah serta kebenaran-Nya. Roh Kudus membantu mengarahkan pekerjaan manusia agar menyerupai pekerjaan-Nya, menuju kontribusi sosial yang benar, sambil memberikan pertumbuhan dan dukungan ekonomi yang diperlukan.