FaithfulNews
Masa Biasa

Gereja dunia · 8 November 2026

Juga diterbitkan dalam 中文

León XIV Akan Mengunjungi Uruguay untuk Membahas Sekularisasi dan Tantangan Gereja

cathedral windows
K. Mitch Hodge / Unsplash

León XIV dijadwalkan melakukan perjalanan apostolik ke Uruguay mulai tanggal 6 hingga 8 November 2026.

Kunjungan ini terjadi di tengah kondisi Uruguay sebagai kasus unik di Amerika Latin yang secara historis didominasi oleh Katolik. Berdasarkan data Latinobarómetro 2024, sebanyak 52 persen warga Uruguay menyatakan tidak memiliki agama, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata Amerika Latin yang sebesar 19 persen. Hal ini menunjukkan transformasi budaya yang mendalam di mana Kekristenan tidak lagi menjadi warisan yang diterima secara spontan, melainkan memerlukan komitmen pribadi.

Sekularisasi di Uruguay merupakan hasil dari proses sejarah panjang yang berkaitan dengan pembangunan negara modern dan pemisahan antara Gereja dan kekuasaan politik. Pemisahan institusional antara Gereja dan Negara telah dikukuhkan secara konstitusional pada tahun 1917, yang kemudian membentuk identitas kolektif di mana agama kehilangan statusnya sebagai referensi umum dalam kehidupan publik. Meskipun demikian, pencarian akan makna hidup, keadilan, dan harapan tetap ada meskipun tidak lagi melalui ruang tradisional yang terkait dengan gereja.

Di tingkat regional, Laporan Latinobarómetro 2026 menunjukkan bahwa Gereja menempati posisi pertama di antara institusi yang dievaluasi di Amerika Latin dengan tingkat kepercayaan sebesar 63 persen. Angka ini mengukur kepercayaan institusional secara umum di wilayah tersebut, bukan afiliasi Katolik atau praktik keagamaan secara spesifik. Sementara itu, dukungan terhadap demokrasi di Uruguay mencapai 64 persen, lebih tinggi daripada rata-rata Amerika Latin yang sebesar 52 persen.

Kondisi sosial di Uruguay juga menunjukkan adanya ketidakpastian masa depan, di mana hanya 18 persen warga yang menganggap dunia bergerak ke arah yang benar. Situasi ini menjadi tantangan bagi misi gerejawi untuk memberikan kontribusi bagi kebaikan bersama dan membela martabat manusia.

Gereja kini menghadapi perubahan zaman di mana transmisi iman tidak lagi terjadi secara otomatis. Hal ini menuntut adanya konversi pastoral, kedalaman intelektual, dan kemampuan untuk mendengarkan alasan orang-orang yang telah menjauh dari agama. Gereja didorong untuk mengumumkan Injil dengan setia dan membuatnya dapat dipahami oleh masyarakat modern tanpa terjebak dalam nostalgia masa lalu atau sekadar menyesuaikan pesan Kristen demi mendapatkan penerimaan.