---
title: Ahli Pelecehan Hans Zollner Mengamati Perubahan dalam Gereja Namun Menegaskan Belum Sempurna
url: https://www.faithfulnews.com/id/ahli-pelecehan-hans-zollner-mengamati-perubahan-dalam-gereja-namun-menegaskan-belum-sempurna
published: 2026-10-17T10:41:21+00:00
language: id
section: Gereja dunia
source: https://www.kn.nl/nieuws/misbruikexpert-hans-zollner-ziet-verandering-in-de-kerk-maar-niet-alles-is-perfect/
organizations: Rooms-katholieke Kerk van Nederland, Pauselijke Commissie voor de bescherming van minderjarigen, Vaticaanse Instituut voor de Antropologie, Pauselijke Gregoriaanse Universiteit
publisher: FaithfulNews
---

# Ahli Pelecehan Hans Zollner Mengamati Perubahan dalam Gereja Namun Menegaskan Belum Sempurna

Gereja Katolik di Belanda telah mengambil langkah-langkah penting selama beberapa tahun terakhir dalam menangani kasus pelecehan seksual, meskipun upaya tersebut belum dianggap sempurna atau selesai sepenuhnya. Pernyataan ini disampaikan oleh Hans Zollner, seorang ahli pencegahan pelecehan yang dikenal secara internasional, selama kunjungannya ke negara tersebut atas undangan dari institusi gerejawi lokal. Ia menekankan bahwa meskipun terdapat kemajuan nyata, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk menciptakan lingkungan yang benar-benar aman bagi semua anggota jemaat.

Zollner menjadi salah satu pembicara utama dalam hari studi yang berfokus pada keamanan sosial dan emosional dalam struktur Gereja Katolik Roma di wilayah Belanda. Acara tersebut dihadiri oleh sekitar seratus dua puluh orang peserta dan dirancang khusus untuk menjaga momentum diskusi mengenai pencegahan pelecehan. Penyelenggara memutuskan untuk menutup acara ini bagi akses media massa agar para peserta dapat merasa bebas dalam menyampaikan pendapat serta mengajukan pertanyaan tanpa tekanan eksternal. Situasi ini mencerminkan keinginan kuat untuk membangun dialog yang jujur dan terbuka di antara berbagai pihak yang terlibat dalam pelayanan gerejawi.

Inti dari presentasi Zollner berputar pada konsep perlindungan menyeluruh yang melampaui sekadar kepatuhan terhadap aturan dan protokol tertulis. Ia menjelaskan bahwa perlindungan sejati mencakup penciptaan lingkungan aman di lokasi fisik seperti gedung gereja maupun di ruang daring tempat banyak kaum muda beraktivitas. Selain itu, konsep ini juga menuntut pembangunan relasi yang aman melalui komunikasi verbal dan nonverbal yang menghormati martabat setiap individu. Zollner menegaskan bahwa struktur jabatan dalam gereja harus ditata ulang dengan jelas mengenai tanggung jawab dan wewenang agar fungsi pencegahan dapat berjalan efektif dan terintegrasi dalam setiap aktivitas.

Dalam pandangannya, iman memainkan peran sentral dalam upaya melindungi manusia dari bahaya pelecehan karena keyakinan Kristen mengajarkan bahwa setiap orang berhak berkembang sepenuhnya. Ia mengutip ajaran Yesus dalam Injil yang mengidentifikasi diri-Nya dengan mereka yang telanjang, sakit, dan dipenjara, yang berarti solidaritas dengan orang-orang yang terpinggirkan dan mengalami trauma. Menurut Zollner, setiap upaya untuk mendampingi korban pelecehan merupakan bagian dari panggilan iman untuk mengembalikan harapan dan kepercayaan yang sering kali hancur akibat pengalaman buruk tersebut. Gereja dituntut untuk menawarkan perspektif baru agar korban dapat percaya kembali kepada sesama manusia dan kepada Tuhan.

Evaluasi terhadap perkembangan di Belanda menyoroti pentingnya laporan investigasi yang diterbitkan pada tahun dua ribu sebelas sebagai titik balik dalam mendefinisikan akuntabilitas. Masalah utama yang teridentifikasi bukanlah hierarki yang terlalu ketat, melainkan kurangnya struktur jelas, pengawasan memadai, dan kepatuhan terhadap aturan internal yang justru memungkinkan pelecehan terjadi. Sejak pertemuan puncak di Vatikan pada tahun dua ribu sembilan belas, isu transparansi dan pertanggungjawaban telah menjadi prioritas utama dalam agenda gerejawi. Namun, tantangan tetap ada dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip ini ke dalam semua kegiatan pastoral sehingga tidak dianggap sebagai tambahan terpisah melainkan sebagai bagian inti dari identitas pelayanan.

Zollner menyatakan rasa optimisme setelah melihat antusiasme besar dalam pertemuan tersebut, yang menurut pemahamannya tidak mungkin dilaksanakan dalam skala sebesar ini beberapa tahun sebelumnya. Ia menilai bahwa kemampuan untuk mengumpulkan berbagai kelompok dalam satu forum merupakan tanda positif adanya kemajuan, mengingat seringnya terjadi keterpisahan antara keuskupan, uskup, dan para religius dalam bekerja sama. Kolaborasi yang lebih erat antar elemen gerejawi lokal ini dianggap sebagai fondasi penting untuk terus membangun budaya perlindungan yang berkelanjutan dan efektif di masa depan.

## This story in other languages

- [हिन्दी](https://www.faithfulnews.com/hi/sakasaal-tharapayaga-ka-khalfa-kathama-uthana-ma-paravaratana-lkana-sab-kachha-paraparanae-naha-ha)
